Pernah pagi hari Rabu;
kusaksikan senyum emasnya
yang lebar seperti berbekas
Pernah petang hari Sabtu;
kutangkap tuturan dukanya
yang getir seperti mengancam

Pernah malam hari Ahad;
tak kunjung kutahu
jurang pikirannya
yang jauh terbungkus raut wajah
Tidaklah ia sedih atau bahagia,
tapi menatapku lama

Ini aku yang diharapkannya
yang durhaka
ia maafkan saja
Tidaklah ia
dengan senyum dan murungnya
kecuali pada pikirnya
ada aku di sana

Maka saat menyiapkan nasi
aku berbisik di dini hari,
"Ibu, terima kasih."